Tanaman Hutan

Budidaya Pohon Jati Putih atau Gmelina

Budidaya Pohon Jati Putih

Sekarang kami akan bahas berkaitan dengan pedoman budidaya pohon Jati Putih. Gmelina atau Jati Putih (Gmelina arborea) merupakan tanaman penghasil kayu yang produktif. Pohon Jati Putih memiliki nama berbeda di tiap negara seperti Gamari atan Gumadi (India), Gamar (Bangladesh) atau Yemane (Myanmar).

Budidaya Pohon Jati Putih

Cara Budidaya Pohon Jati Putih

Berikut ini pedoman budidaya pohon Jati Putih mulai dari cara memelihara sampai cara merawat pohon beringin.

Syarat Tumbuh Jati Putih

Apabila tumbuh di tempat yang optimum, jenis ini dapat mencapai tinggi 30 meter dengan diameter lebih dari 60 cm pada umur 8 – 12 tahun. Tanaman ini tumbuh baik pada ketinggian

0 – 800 m dpl. Curah hujan optimum berkisar antara 1800 – 2300 mm/tahun dengan bulan kering 3 – 5 bulan dan kelembapan minimum 40%, temperatur rata-rata 21 – 28 °C dengan suhu maksimum rata-rata pada bulan kering 24 – 35 °C, dan suhu minimum rata-rata pada bulan basah 18 – 24 °C.

Penanaman Jati Putih

Tahapan pertama untuk budidaya pohon Jati Putih adalah penanaman benih. Penanaman dilakukan pada saat curah hujan sudah merata atau sekitar Bulan November – Desember. Kegiatan penanaman diawali dengan

  • persiapan dan pembersihan lahan (land clearing),
  • pengukuran,
  • pemasangan ajir, dan
  • pembuatan lubang tanam dengan ukuran 40x40x40 cm.

Pemberian pupuk kandang dilakukan 1 – 2 minggu sebelum penanaman. Jarak tanam terbaik adalah 2×2 meter. Jarak tanam yang rapat dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tinggi dan mengurangi pengembangan cabang yang dominan, sehingga diharapkan pertumbuhan batang menjadi lurus. Untuk tumpangsari dengan tanaman tahunan disarankan menggunakan tanaman rempah yang mempunyai sifat toleran terhadap sinar matahari seperi kapol (jarak tanam kapol 2×2 meter).

Perawatan Jati Putih

Langkah selanjutnya untuk budidaya pohon Jati Putih yaitu perawatan. Kegiatan pemeliharaan tanaman meliputi

  • penyiangan,
  • pemupukan,
  • pemangkasan cabang,
  • pemberantasan hama / penyakit, dan
  • penjarangan.

Penyiangan, pemupukan, dan pemangkasan cabang dilaksanakan pada tahun pertama kedua. Penyiangan (pendangiran dan penggemburan tanah) dilaksanakan sedikitnya 3 kali dalam setahun, sedangkan untuk pemangkasan cabang semakin cepat dan sering dilakukan akan semakin baik untuk pertumbuhan dan kualitas batang, di samping pelaksanaannya lebih mudah karena cabang masih kecil dan lunak.

Pemangkasan yang terlambat sebaiknya dihindari sebab di samping pohon cenderung bengkok, juga karena beban cabang yang berat pada batang muda. Selain itu pemangkasan lebih memerlukan waktu dan tenaga. Dampak atau bekas yang ditimbulkan juga kurang bagus, walaupun teknik pemangkasan dilakukan tepat pada pangkal cabang dan bekas cabang dapat tertutup oleh jaringan kulit baru.

Secara teori hal di atas diharapkan dapat berfungsi menghindari serangan hama atau penyakit. Namun pada bekas-bekas cabang tersebut akan imbul benjolan-benjolan besar karena jaringan cabang di dalam batang terus berkembang atau tumbuh. Kondisi ini berdampak terhadap turunnya kualitas kayu (logs).

Pemupukan pertama dengan NPK tablet sebanyak 4 tablet tiap pohon diberikan 2 atau 3 bulan setelah penanaman dan dilaksanakan setelah penyiangan pertama. Sedangkan pemupukan tahun kedua diberikan pada awal musim hujan.

Jika pola tanam tumpangsari menggunakan tanaman tahunan seperti kapol, disarankan kegiatan penggemburan tanah dan pemberian pupuk kandang dilakukan pada tahun-tahun berikutnya secara merata. Hal ini dimaksudkan untuk memperbaiki struktur tanah dan memenuhi ketersediaan hara untuk semua tanaman.

Sekian informasi berkaitan dengan pedoman budidaya pohon Jati Putih, semoga artikel kali ini mencerahkan kalian. Mohon artikel ini dibagikan biar semakin banyak yang mendapatkan manfaat.

Referensi:

 

Add Comment

Click here to post a comment

Topics

Arsip

Kategori